Hutan Bambu “Ambisi” Pembangunan Pemkab Tangerang Ditengah Kedaruratan Sampah.

Tangerang | Penatipikorindonesia.com  –  Sungguh memprihatinkan, dalam kurun beberapa waktu ini, kinerja Pemerintah Kabupaten Tangerang terus disorot, berbagai kebijakan pembangunan di beberapa proyek Icon bernilai miliaran rupiah berdiri dibalik isak tangis dan kemiskinan. Beberapa proyek dengan nilai fantastis yang di gadang gadang akan membawa dampak dan perubahan positif bagi perekonomian masyarakat seperti proyek Hutan Bambu di wilayah cisoka nampak begitu sangat meyakinkan, kata demi kata dirangkai dan diutarakan dengan begitu indah layaknya sang motivator yang berdiri diatas panggung mewah yang di iringi dengan sorak sorai dan tepuk tangan penonton.

Narasi kemanfaatan fasilitas umum yang dibangun tersampaikan dengan penuh keyakinan dan kebanggaan tanpa menoleh sedikitpun dari mana sumber pembiayaan infrastruktur tersebut berasal. Munculnya kisah pilu Ibu Umah warga Penderita Kangker Payudara asal Desa Cikareo Kecamatan Solear yang sempat pasrah dan menghentikan pengobatan akibat kesulitan ekonomi tentunya sudah cukup untuk meluluh lantahkan segala narasi surga yang selama ini terucap dan disampaikan oleh para pejabat diruang publik.

Beriringan dengan narasi indah yang dibangun, tumpukan Sampah menjalar dimana mana, bahu Jalan Raya Cisoka-Solear seolah menjadi tempat nyata yang mencerminan kebingungan masyarakat atas minimnya tempat tempat pembuangan Sampah legal yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang. Lantas Pentingkah ‘Hutan Bambu’ ??

Selain Kesemerautan sampah, Kemiskinan ekstrem pun masih amat begitu terasa nyata, kisah pilu ibu umah beberapa waktu lalu tentunya menunjukkan bahwa alokasi anggaran Pemkab Tangerang nampak lebih terfokus pada gengsi ketimbang kesejahteraan masyarakat. Selain itu, cerita memprihatinkan warga Desa Cikareo inipun menjadi potret nyata bahwa tingginya angka kemiskinan ekstrem di Kabupaten Tangerang bukan lah hisapan jempol semata, kemiskinan dan kesulitan kini semakin terasa menandakan bahwa hal tersebut masih menjadi problem akut yang hingga kini belum dapat tertuntaskan.

Kendati penderitaan ibu umah (penderita kangker) kini sudah dapat tertangani dengan baik, namun kisah ini tentunya merupakan satu dari sekian banyak potret kesulitan warga di sudut gelap akibat kesulitan dan kemiskinan. Kehadiran Pemerintah Kabupaten Tangerang ditengah penderitaan warga penderita kanker payudara beberapa waktu lalu tentunya mendapat apresiasi dari seluruh masyarakat, namun bersamaan dengan hal tersebut tak sedikit pula suara kritis menggema menuntut adanya perbaikan dan penuntasan kemiskinan ekstrem dan kesemerautan penanggulangan sampah yang secara tidak langsung telah mencoreng nama baik Pemerintah Kabupaten Tangerang ditingkat Nasional dalam menangani persoalan sampah.

Beberapa kebijakan pembangunan dan rapat di Hotel mewah yang telah menguras APBD Miliaran Rupiah, seperti Hutan Bambu di Cisoka kini terus disorot lantaran dinilai tak mencerminkan keseriusan Pemkab Tangerang dalam menangani persoalan sampah dan Kemiskinan, secara eksplisit masyarakat tentunya berharap agar Pemerintah Kabupaten Tangerang dapat menyediakan bak bak penampungan sampah sementara ketimbang mendahulukan pembangunan hutan yang tentunya sangat berpotensi menjadi salah satu tempat penyumbang sampah dimasa depan. Poros alokasi anggaran disektor pembangunan ini tentunya sangatlah kontras dengan Potret nyata kemiskinan ekstrem dan Kesemerautan penanggulangan sampah.

Ditempat terpisah Camat Cisoka, Sumartono, dalam keterangan pers menjelaskan kemanfaatan Proyek Hutan Bambu dan berbagai manfaat untuk masyarakat.

Sumartono kala itu menegaskan, pembangunan Hutan Bambu bukanlah proyek seremonial, proyek Hutan Bambu tersebut dirancang sebagai ruang terbuka publik yang memiliki fungsi lingkungan sekaligus mendorong perekonomian masyarakat sekitar.

“Pembangunan ini dilakukan bertahap. Tahap pertama fokus pada pemerataan lahan dan penyesuaian saluran air untuk mencegah banjir karena lokasi ini sebelumnya jalur pembuangan air dari kawasan perumahan dan toko sekitar,” Ungkap Camat Cisoka, dikutip dari laman Kompas.com Senin(05/01/26)

Setelah pernyataan yang dikeluarkan beberapa pejabat mengenai berbagai isu dan dugaan pemborosan anggaran, suara kritis pun datang bersautan, melalui Sekretaris Umum (Sekum) Forum Reporter Jurnalis Republik Indonesia (FRJRI), Arul, menganggap alokasi anggaran harus lebih berfokus pada kepentingan masyarakat secara keseluruhan, dalam rangka menangani persoalan kemiskinan ekstrem dan sampah.

” Keunggulan Pendapatan Daerah Kabupaten Tangerang yang disebut tertinggi Se-banten harus lah bisa mencerminkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat nya secara nyata, angka kemiskinan ekstrem harusnya turun secara signifikan, persoalan sampah juga seharusnya dapat tertangani dengan cepat, kenapa, karena pada dasarnya Kabupaten Tangerang mampu secara keuangan, jadi cukup mengherankan tentunya jika wilayah kaya tapi potret kemiskinan ekstrem masih amat begitu nyata. Ungkapan nya

Mengacu pada ke dua sisi tersebut, Perlu langkah nyata tentunya dan aksi nyata yang dilakukan diluar ruang rapat mewah dalam upaya pengentasan persoalan kemiskinan ekstrem dan sampah. Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid kini didesak agar dalam waktu dekat ini segera melakukan berbagai pembenahan, menularkan empati dan kepekaan secara langsung terhadap masyarakat, dan menempatkan serta memberikan pemahaman bagi para pemimpin ditingkat wilayah agar lebih peka dan sigap dalam melihat kondisi kesulitan warga.

Sementara itu hingga berita ini kembali diterbitkan baik Kepala Dinas DLHK maupun Kontraktor Pelaksana Kegiatan masih belum dapat ditemui guna dikonfirmasi dan pemberitaan lebih lanjut.

Publik kini tentunya menunggu adanya langkah kongkrit dan aksi nyata yang akan dilakukan Maesyal-Intan dalam menyelesaikan persoalan kemiskinan dan kesemerautan penanggulangan sampah yang merupakan salah satu PR besar yang pada 2025 lalu belum dapat tertuntaskan.

(Nurdin)