Tangerang, Penatipikor.com – Diduga gunakan matrial batu belah murahan, proyek hutan bambu Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang, bernilai 1,8 Miliar di kp Cilaban, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang,Banten. Cerminkan Ke Bobrokan intelektual fungsi pengawasan. Kamis (04/12/2025)
Jika sebelumnya Dinas Tata Ruang Bangunan (DTRB) yang disorot lantaran adanya dugaan pembiaran penerapan standar menejemen K3 pada proyek gerbang dijantung pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang, kali ini sorotan publik kembali tertuju pada proses pelaksanaan pembangunan hutan bambu Miliaran Rupiah milik Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) yang digadang gadang merupakan simbol kegagalan intelektual fungsi pengawasan lantaran diduga kuat telah menggunakan bahan matrial baru belah berkwalitas rendah.
Menurut informasi yang berhasil dihimpun oleh awak media ini, diketahui bahwa jenis batu belah yang digunakan pada proyek hutan tersebut, merupakan jenis batu termurah dengan kwalitas yang rendah.
“Itumah batu murah bang, harganya juga jauh dengan jenis batu sidamanik, jenis batu itu mah bisa dibilang murah. Ujar GN (40) salah satu warga yang aktif didalam kegiatan pertambangan.
Muncul nya alokasi anggaran pembangunan hutan yang cukup besar di Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan inipun dinilai sangat lah tidak tepat, lantaran tak mencerminkan adanya kepedulian pemerintah terhadap permasalahan sampah paska resmi ditetapkan sebagai wilayah berstatus Darurat Sampah.
Lalu lalang kendaraan pengangkut tanah nampak mulai terasa intens. persoalan baru muncul menghiasi jalanan beton. Situasi Debu yang mulai menyesakan pernafasan warga di kala cuaca terik suasana jalan yang licin dan kotor paska turun nya hujan, menjadi sesuatu hal yang saat ini mulai dirasakan oleh warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kegaduhan kini perlahan mulai nampak, terlihat pada awal awal pelaksanaan proyek. Penggunaan batu belah yang diduga berkwalitas rendah, menguatkan dugaan bahwa tlah terjadi upaya mark up didalam proses pengerjaan.
Beriringan dengan berbagai dugaan penyimpangan yang terjadi, muncul ungkapan monohok dari warga atas adanya pembangunan hutan bambu tersebut. Ungkapan yang seolah mencerminkan ketidak puasan masyarakat atas kinerja Pemerintah Kabupaten beberapa waktu ini.
“Lah pak mana saya tau fungsi proyek ini, sekarang mah gimana mereka aja (pemerintah) sekarang apa apa sulit, cari duit sulit, cari kerja sulit, jangankan itu buang sampah aja sekarang sulit, disini salah disana salah. Ujar putri (24) salah satu warga bojong loa yang kala itu sedang melintas.
Perlu diketahui bahwa proyek hutan bambu bernilai miliaran rupiah tersebut dibangun berdampingan dengan salah satu destinasi kuliner tenama diwilayah Kecamatan Cisoka, yang mana pada saat ini proyek hutan tersebut tengah memasuki tahapan pemadatan dan perataan kultur tanah.
Kritik demi kritik kini terus bermunculan dan memantik beragam reaksi nyata masyarakat atas minimnya capaian Pemerintah Kabupaten Tangerang dibawah Kepemimpinan Moch Maesyal Rasyid dalam menanggulangi persoalan sampah.
Publik tentunya kini berharap, agar Pemerintah Kabupaten Tangerang dapat segera berbenah dan lebih memfokuskan anggaran untuk kesejahteraan masyarakat dan membangun tong tong penampungan sampah sementara disetiap desa guna meringankan beban kebingungan bagi setiap warga yang selama ini membayang manakala hendak membuang sampah.
Perlu diketahui bahwa Proyek hutan bambu yang beberapa waktu ini sempat menuai banyak sorotan tersebut berjudul, Proyek Pembangunan Hutan Bambu yang berasal dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Tangerang untuk selanjutnya dikerjakan oleh CV. Putra Kosambi Jaya dengan kontrak kerja selama 90 hari kalender.
Hingga berita ini kembali diterbitkan untuk kesekian kalinya, Kepala Dinas DLHK Kabupaten Tangerang dan Kontraktor masih belum dapat ditemui guna dikonfirmasi dan pemberitaan lebih lanjut. (Nurdin)










