Sarang Transaksi di Sawah Pulo Digerebek, 37 Poket Sabu Diamankan Jaringan Masih Berkeliaran

Surabaya, Penatipikorindonesia.com. Kawasan Sawah Pulo kembali tercoreng. Di depan gapura jalan yang setiap hari dilalui warga, transaksi sabu diduga berlangsung nyaris tanpa rasa takut. Dini hari, Minggu (15/2/2026), aparat Satresnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak meringkus tiga pria yang diduga kuat sebagai pengedar saat menunggu pembeli.

Tiga tersangka berinisial A.F (42), R.P (31), dan O.W (26) diamankan sekitar pukul 01.00 WIB. Dari tangan mereka, polisi menyita 37 poket sabu dengan berat bruto 11,09 gram, uang hasil penjualan, dua ponsel untuk transaksi, helm merah tempat menyimpan barang bukti, serta dompet hitam.

Namun yang lebih mengusik adalah pola operasinya. Para pelaku disebut sudah enam kali menerima pasokan dari seorang bandar berinisial M.A yang kini berstatus DPO. Artinya, distribusi bukan sekali dua kali terjadi melainkan berulang dan terstruktur.

“Pengungkapan ini bukti keseriusan kami memutus mata rantai peredaran narkoba,” tegas Iptu Suroto, mewakili Kasat Narkoba AKP Adik Agus Putrawan.

Keseriusan itu diuji publik. Sebab, fakta di lapangan menunjukkan para tersangka bersiaga sejak pukul 17.00 WIB hingga menjelang pagi, di lokasi yang sama, menunggu pembeli datang langsung. Mereka bahkan menyediakan tempat bagi pengguna yang ingin langsung mengonsumsi sabu di sekitar lokasi.

Jika praktik ini berjalan berjam-jam setiap hari, pertanyaannya: berapa lama aktivitas tersebut sudah berlangsung? Siapa saja yang mengetahui? Dan bagaimana jaringan pemasok bisa leluasa mengirim barang hingga enam kali tanpa terendus lebih cepat?

Dari 47 poket terakhir yang diterima, delapan sudah terjual senilai Rp1,2 juta, dua dikonsumsi bersama, dan sisanya siap edar. Upah yang diterima para pelaku pun terbilang kecil—Rp75 ribu per transaksi, uang konsumsi harian, serta “bonus” sabu untuk dipakai sendiri. Skema klasik: pengguna dijadikan kurir, kurir dijadikan tameng, bandar tetap tersembunyi.

Penangkapan ini patut diapresiasi. Tetapi publik tidak hanya menunggu rilis barang bukti dan foto tersangka. Publik menunggu pembongkaran hingga ke akar—siapa M.A? Di mana posisinya? Jaringan mana yang menaunginya? Apakah berdiri sendiri atau bagian dari sindikat lebih besar yang memanfaatkan wilayah pelabuhan sebagai jalur distribusi?

Selama bandar besar belum tersentuh dan jalur pasokan belum diputus total, penangkapan di level lapangan hanya akan menjadi siklus: tangkap, muncul lagi, tangkap lagi.

Sawah Pulo bukan sekadar titik di peta. Ia adalah ruang hidup warga. Jika transaksi sabu bisa berlangsung terang-terangan hingga dini hari, maka ini bukan hanya soal tiga pengedar—ini soal seberapa kuat negara benar-benar hadir di tengah ancaman narkoba yang terus merusak generasi.

Bersambung