Filosofi Jalannya Madu & Gula, Mencerminkan Seorang Kepemimpinan Pejabat di Akhir zaman

Kota Langsa, Penatipikor.com – Fenomena kepemimpinan di era modern kembali menjadi sorotan tajam. Seorang pemerhati publik yang akrab disapa Eyang Semer mengkritisi kondisi kepemimpinan di akhir zaman dengan menggunakan filosofi sederhana namun mengena: perbedaan antara gula dan madu.

Menurutnya, analogi ini sangat relevan untuk menggambarkan kehidupan manusia ketika menjabat sebagai pimpinan. “Banyak pemimpin hari ini berlaku seperti gula. Manisnya hanya sementara, manis karena bagi-bagi proyek, bagi-bagi jabatan. Tentu saja langsung dikerumuni ‘semut-semut’ yang hanya mencari manisnya, mencari untung,” tegasnya.

Eyang membeberkan perbedaan fundamental antara pemimpin bermental ‘gula’ dan ‘madu’. Pemimpin ‘gula’, kata dia, cenderung transaksional. Kekuasaannya dibangun di atas janji-janji manis dan pembagian keuntungan sesaat. Akibatnya, Gula selalu menjadi kerumunan Semut yang mencari keuntungan pribadi, tanpa sadar seorang pemimpin lalai dengan rayuan semut. Namun filosofi mengambarkan begitu gula habis, si semut pun berbalik langsung pergi tanpa pamit. ‘ imbuhnya Eyang

Sementara itu, pemimpin bermental ‘madu’ memiliki karakter yang berbeda. “Madu itu manisnya alami, tulus, dan memberi manfaat kesehatan jangka panjang. Tidak semua orang suka, bahkan terasa pahit bagi yang tidak biasa. Tapi khasiatnya nyata,” jelasnya.

Filosofi ini menggambarkan sosok Pemimpin ‘madu’, l tidak sibuk membangun pencitraan manis. Ia fokus pada kerja nyata, kebijakan yang menyehatkan masyarakat, meski terkadang pahit dan tidak populer di awal. “Orang yang mendekatinya bukan ‘semut pencari manis’, tapi ‘lebah pekerja’ yang sama-sama ingin menghasilkan kebaikan.”

menyayangkan bahwa di akhir zaman ini, banyak yang lebih memilih menjadi ‘gula’ ketimbang ‘madu’. Orientasi kekuasaan bergeser dari pengabdian menjadi alat untuk mengumpulkan ‘semut’.

Semer ” berpesan kepada masyarakat agar lebih bijak memilih pemimpin. Jangan mudah terbuai oleh ‘manisnya gula’ yang ditawarkan menjelang momen-momen politik. “Lihatlah rekam jejak. Apakah dia seperti madu yang memberi manfaat jangka panjang, atau hanya gula yang habis manis sepah dibuang,” pungkasnya.

Filosofi gula dan madu ini menjadi pengingat bahwa esensi kepemimpinan sejati bukanlah tentang seberapa banyak orang yang mengerumuni, melainkan seberapa besar manfaat dan keteladanan yang ditinggalkan untuk masa depan demi generasi muda sedia. Eyang mengakhiri liriknya lewat dunia pers.

( Hendrik Penulis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed