JEMBER, Penatipikorindonesia.com – Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Jember menandai peringatan hari jadinya yang ke-3 dengan langkah progresif di bidang lingkungan. Pada kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 29 Mei 2026, organisasi lintas agama ini meluncurkan gerakan strategis bertajuk “Memilah Sampah dari Rumah” sebagai respons nyata terhadap status darurat sampah di wilayah Jember.
Arif Humaidi, mewakili Ketua IPARI Jember, menegaskan bahwa peran penyuluh agama saat ini telah bertransformasi dari sekadar pemberi ceramah menjadi agen perubahan sosial melalui pendekatan eko-teologi. Program ini selaras dengan arahan Kementerian Agama untuk mengimplementasikan nilai-nilai spiritual dalam pelestarian alam.
“Tanggung jawab penyuluh saat ini adalah mewujudkan nilai agama dalam aksi nyata. Di tengah kondisi darurat sampah, IPARI hadir memberikan solusi konkret untuk mengurangi beban lingkungan dan mendukung program pemerintah daerah,” ujar Arif Humaidi saat memberikan keterangan di Masjid Nurul Jannah, Arjasa.
Gerakan ini bukan sekadar imbauan, melainkan praktik langsung pengelolaan limbah rumah tangga. Di Kecamatan Arjasa, IPARI telah mempelopori pengolahan sampah menjadi produk bermanfaat:
Sampah Organik: Diolah menjadi produk sabun cair.
Minyak Jelantah: Dimanfaatkan kembali menjadi lilin aroma terapi untuk kebutuhan suvenir.
Melalui basis kelompok binaan IPARI yang sangat luas, gerakan edukasi lingkungan ini diharapkan tidak menjadi gerakan sesaat, melainkan virus kebaikan yang berkelanjutan demi menjaga bumi. Dengan kekuatan 458 kelompok binaan yang tersebar di Kabupaten Jember, IPARI optimis gerakan ini dapat menekan beban di TPA Pakusari yang saat ini telah melampaui kapasitas (overload). Inisiatif ini didukung penuh oleh jajaran Muspika Kecamatan Arjasa sebagai jawaban atas laporan masyarakat di kanal Wadul Husein terkait penumpukan sampah di area pasar.
Acara yang berlangsung hangat tersebut turut dihadiri oleh jajaran Kasi Bimas Islam, Penyelenggara Zawa Kemenag Jember, jajaran Kepala KUA (Arjasa, Pakusari, Sukowono), unsur Muspika (Camat dan Danramil), serta tokoh masyarakat dan Ibu-Ibu Majelis Taklim setempat. Melalui kolaborasi lintas agama ini, IPARI berkomitmen menjadikan momentum usia ke-3 sebagai titik balik kemandirian ekonomi umat berbasis pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Pewarta : Husin M Ali Albalghoist








