Penatipikor.com | DENPASAR – BALI, sabtu, 14 – februari – 2026, Kekecewaan masyarakat dan putra daerah Bali terhadap penanganan masalah sampah semakin menguat. Hingga saat ini, persoalan sampah dinilai belum tertangani secara optimal, sementara iuran kebersihan tetap dipungut setiap bulan dari masyarakat.
Warga mempertanyakan transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana iuran sampah tersebut. Mereka berharap adanya keterbukaan informasi mengenai alokasi anggaran, program kerja, serta langkah konkret yang telah dan akan dilakukan dalam mengatasi persoalan sampah yang kian mendesak.
“Kami membayar iuran setiap bulan. Sudah sewajarnya kami mengetahui secara jelas ke mana dana itu digunakan dan sejauh mana dampaknya bagi kebersihan lingkungan Bali,” ungkap salah satu perwakilan masyarakat.
Di sisi lain, sejumlah putra daerah Bali mengaku memiliki inovasi dan gagasan konkret dalam pengolahan sampah, mulai dari teknologi pengolahan terpadu hingga pemberdayaan berbasis desa adat. Namun, mereka merasa belum mendapat ruang dialog dan perhatian yang memadai dari pemerintah provinsi.
“Kami tidak ingin hanya mengkritik. Kami ingin dilibatkan. Bali punya sumber daya manusia yang mampu dan peduli. Jangan sampai potensi lokal terabaikan,” ujar salah satu inisiator inovasi lingkungan.
Masyarakat berharap Gubernur Bali dapat segera membuka ruang komunikasi yang transparan, menyampaikan laporan penggunaan anggaran secara terbuka, serta merangkul inovasi dari putra daerah sebagai bagian dari solusi jangka panjang.
Bali adalah wajah Indonesia di mata dunia. Menjaga kebersihan dan kelestariannya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Namun demikian, kepemimpinan yang transparan, tegas, dan responsif tetap menjadi kunci utama dalam menjawab keresahan publik saat ini.
(Red)








